Tafsir Al-Baqarah 163 - 164 | Akal dan Kalbu
Dimulai dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang.
Pagi Yang Tak Pernah Lewat
Ada satu pagi, seorang ibu duduk sendirian di beranda. Anak-anak sudah ke sekolah, kopi pun sudah suam. Kepalanya penuh: bil, kerja, dan esok nak masak apa. Tiba-tiba matanya tertancap pada langit yang perlahan-lahan cerah. Matahari naik juga, sama seperti semalam. Tak pernah lewat, tak pernah tersasar. Dalam hati dia berbisik, “Kalau langit pun Allah jaga serapi ini, takkanlah hidup aku Dia lupakan?”
Tuhan Kita Satu
Itulah yang ditegaskan dalam ayat 163. Menurut Ibnu Katsir, Allah itu Esa, tiada sekutu dan tiada tandingan. Dia juga Ar-Rahman Ar-Rahim, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Maknanya, tempat kita bergantung hanya satu, dan Dia tidak pernah penat mendengar.
Ayat 163
Tuhan kamu ialah Tuhan Yang Maha Esa; tiada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang.
Tanda-Tanda Di Sekeliling Kita
Ayat 164 pula mengajak kita merenung. Antara tanda yang disebut:
- Langit dan bumi yang berjalan teratur, bulan dan bintang tidak bertembung.
- Malam dan siang yang silih berganti, kadang-kadang panjang, kadang-kadang pendek.
- Kapal yang belayar di laut membawa manfaat untuk manusia.
- Hujan yang turun dari langit lalu menghidupkan bumi yang kering.
- Angin dan awan yang tunduk di antara langit dan bumi.
Semua itu, kata ayat tersebut, adalah tanda bagi kaum yang berakal.
Untuk Hati Seorang Wanita
Ada hari kita rasa kering macam bumi yang lama tak disentuh hujan. Tapi lihatlah, hujan tetap turun dan tanah yang mati pun hidup semula. Begitulah ketenangan dan rezeki, datang pada waktu yang Allah tetapkan. Jadi bila penat, mari tengok langit dulu. Di situ ada jawapan yang tenang.
Renung Sejenak
Kalau langit pun teratur dalam jagaan-Nya, hati yang penat ini pasti tidak dilupakan.
Catatan
Huraian ringkas, bukan fatwa. Sila rujuk ustaz atau kitab Tafsir Ibnu Katsir penuh. Rujukan: Tafsir Ibnu Katsir dan keterangan buku, hal. 33.
Comments